• April 3, 2025
Dinas Kesehatan Riau membantah 9 korban meninggal akibat kabut asap

Dinas Kesehatan Riau membantah 9 korban meninggal akibat kabut asap

PEKANBARU, Indonesia – Dinas Kesehatan Provinsi Riau membantah pemberitaan media yang menyebutkan kabut asap merenggut sembilan nyawa.

Hingga saat ini belum ada laporan korban jiwa akibat kabut asap tersebut, kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau Andra Sjafril kepada Rappler, Senin, 26 Oktober.

Menurut dia, dalam beberapa bulan terakhir ada warga Riau yang meninggal dunia, namun penyebabnya bukan karena merokok.

“Mereka yang diberitakan meninggal di media harus diselidiki lebih detail penyebabnya. Kami belum mendapatkan laporan itu. “Yang dilaporkan, korban meninggal karena sebab lain,” kata Andra.

Sebelumnya, pada 14 September, seorang gadis berusia 12 tahun bernama Muhanum Anggriawati meninggal dunia karena gagal napas di RSUD Arifin Achmad, Pekanbaru.

“Dia batuk parah, seminggu batuk parah, dan setelah batuk itu dia sembelit,” kata Musriati, ibunda Muhanum, kepada Rappler, 19 September lalu.

Namun menurut Andra, penyebab meninggalnya Muhanum bukan karena gangguan pernafasan akibat menghirup asap, melainkan TBC.

Dari pemeriksaan dokter, korban meninggal karena TBC, kata Andra.

Catatan 9 korban

Berdasarkan pemberitaan media dan keterangan keluarga korban, hingga saat ini sudah sembilan korban meninggal dunia di Riau akibat terpapar kabut asap, salah satunya adalah Muhanum.

Korban selanjutnya di Pekanbaru adalah Umaryanta (45 tahun), pegawai Balatrans Pekanbaru. Umaryanta diduga meninggal karena penyempitan paru-paru di RS Santa Maria Pekanbaru, 19 September.

Berikutnya ada Iqbal Ali (31 tahun), pegawai Kanwil Kementerian Agama Riau yang meninggal dunia akibat asmanya kambuh di RSUD Arifin Achmad, 5 Oktober.

“Anak saya selalu menderita asma. “Asmanya kambuh lagi sejak kebiasaan merokok berat akhir-akhir ini,” kata Hasan Amal, ayah Iqbal, usai pemakaman putranya.

Selain itu, ada Nafizah Azahrah, seorang anak berusia 1 tahun 9 bulan yang menderita infeksi paru di RS Awal Bros Panam pada 1 Oktober.

Korban selanjutnya adalah Ramadhani Lutfi Aeril (9 tahun), pelajar MIN 1 Pekanbaru yang meninggal dunia pada 21 Oktober di RS Santa Maria. Dari hasil rontgen terlihat ada bercak putih di paru-parunya.

Ada pula Keysa Putri, bayi yang baru berusia 45 hari. Ia meninggal pada 22 Oktober di rumahnya di Kompleks Tarai II Kubang Raya, Pekanbaru. Kesya mengalami sesak napas tanpa dibawa ke rumah sakit.

Sedangkan tiga korban lainnya berada di luar wilayah Pekanbaru. Mereka adalah Muliya (12 tahun) dan Andriyanto (10 tahun) yang berdomisili di Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir, dan Angga Saputra (2 tahun) di Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan.

Muliya meninggal dunia pada 1 Oktober setelah dirawat di RS Puri Husada Tembilahan, Indragiri Hilir. Saat dilarikan ke rumah sakit, korban mengalami sesak napas, kejang, dan muntah-muntah.

“Hidungnya juga berdarah. “Dia meninggal setelah satu hari dirawat,” kata Mansah, ayah Muliya.

Sementara itu, ayah Andriyanto, Kurnain, mengatakan gejala yang sama juga terjadi pada putranya sebelum meninggal pada 22 Oktober di RSUD Puri Husada.

Kata dokter, itu karena merokok. “Saat saya di rumah sakit, saya beberapa kali merokok, dan keluar banyak cairan berwarna hitam,” kata Kurnain.

RSUD Puri Husada Tembilahan memvonis mati Andriyanto karena bronkopneumonia – peradangan pada dinding bronkiolus (saluran udara kecil di paru-paru).. Bronkopneumonia biasanya disebabkan oleh polusi, baik polusi udara, air, maupun tanah.

“Kami tidak melakukannya memahami “Penyakit apa ini, tapi kata dokter disebabkan oleh rokok,” kata Kurnain. Diakuinya, saat terjadi kabut asap, anak-anaknya bisa dikatakan tidak pernah memakai masker saat bermain di luar rumah.

Korban lainnya, Angga Saputra asal Kabupaten Pelalawan, meninggal dunia setelah dirawat di RS Evaria. Dia meninggal pada 22 Oktober karena infeksi paru-paru.

Namun Dinas Kesehatan Kabupaten Pelalawan langsung membantah kematian Angga akibat merokok.

“Kami mendatangi RS Evaria dan mengkonfirmasi langsung ke pihak RS dan dokter yang merawat korban. Jadi kalau dibilang karena ISPA, itu tidak benar, kata Sekretaris Dinas Kesehatan Asril, Sabtu, 24 Oktober.

Asril mengatakan, saat korban masuk rumah sakit, ia sudah menderita penyakit pneumonia atau infeksi paru-paru parah. Ada juga beberapa infeksi pada organ dalam.

Namun Asril tak memungkiri, jika korbannya terkena infeksi paru-paru, akan semakin parah jika terkena asap jika tidak segera ditangani.

Foto rontgen dan hasil otopsi diperlukan untuk mengetahui penyebab kematiannya

Rozita Rossi, Koordinator Humas Dinas Kesehatan Provinsi Riau, mengatakan pihaknya belum bisa merilis data kematian karena menurutnya, dinas kesehatan hanya menerima laporan dari rumah sakit dan puskesmas se-Riau.

“Kami juga tidak bisa memasukkan mereka yang meninggal akibat merokok seperti yang diberitakan di media sebagai korban merokok, karena ini memerlukan kajian lebih lanjut. “Perlu dilakukan pengecekan hasil rontgen dan autopsi,” kata Rozita.

Berdasarkan keterangan keluarga korban, korban meninggal rata-rata karena penyakit ISPA, pneumonia, dan ada pula yang menderita asma kambuh akibat paparan kabut asap dan kekurangan oksigen.

Hal inilah yang disesalkan Ketua PWI Provinsi Riau Dheni Kurnia. Dheni mencontohkan seseorang yang selalu tinggal di ruangan yang dipenuhi asap rokok, padahal dia tidak merokok.

“Kalau nanti dia mati, bukankah bisa dikatakan dia meninggal karena menghirup asap rokok?” katanya misalnya.

“Itu benar, orang-orang mati karena akhir hidup mereka telah tiba. Namun, merokok bisa mempercepat kematian seseorang, kata Dheni.

Ia mencontohkan seperti yang menimpa Iqbal Ali. Korban memiliki riwayat penyakit asma sejak kecil, namun setelah tiga bulan lebih terpapar kabut asap, asmanya kambuh dan meninggal dunia. —Rappler.com

BACA JUGA:

Togel Hongkong Hari Ini