• April 13, 2024
Masalah agama masih ‘digoreng’

Masalah agama masih ‘digoreng’

Normal 0 salah salah salah AND-VS X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

/* Definisi Gaya */ table.MsoNormalTable mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-ukuran tapak:0; mso-tstyle-colband-ukuran:0; mso-style-noshow: ya; prioritas gaya mso:99; mso-style-qformat: ya; mso-style-parent:””; mso-padding-alt: 0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-kanan: 0in; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-kiri: 0in; tinggi garis: 115%; penomoran halaman mso: janda; ukuran font: 11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-keluarga:Calibri; mso-ascii-tema-font:kecil-latin; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-tema-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-tema-font:kecil-latin;

Setiap pemilihan presiden, salah satu isu terhangat yang menjadi bahan ‘gorengan’ kubu pesaing adalah isu kesalehan beragama. Ingatkah Anda saat Susilo Bambang Yudhoyono diterpa isu bahwa istrinya, Kristen Herawati, beragama Kristen? Hal ini terjadi pada pemilu presiden tahun 2004. Sejumlah Kyai di Jawa Timur turun tangan untuk melindunginya.

Pada pemilu 2009, istri calon wakil presiden Boediono yang diisukan beragama Katolik. Kemudian pada Pilpres 2014, isu agama Presiden Joko ‘Jokowi’ Widodo pun tak kalah gencarnya.

Untuk membendung isu tersebut, beredar foto Jokowi sedang berdoa. Istri Jokowi, Iriana, tampak mengenakan jilbab saat debat capres-cawapres. Antara lain untuk menunjukkan bahwa dia dan suaminya telah memeluk Islam.

Isu tersebut menjadi sangat populer di media Islam ketika Iriana tampil tanpa jilbab atau hijab usai pemilihan presiden. Saking kesalnya, Jusuf Kalla, calon wakil presiden Jokowi, menantang Prabowo Subianto dan Jokowi menggelar lomba baca Al-Quran antar calon presiden.

Usulan JK dipublikasikan Republika, ini tautannya.

Saya mengambil contoh di atas untuk menunjukkan bagaimana isu ‘pengikut Islam yang taat’ memainkan peran penting dalam politik di Indonesia. Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia yang berdasarkan Pancasila, bukan Syariat Islam.

Saking pentingnya, muncul usulan di daerah yang mewajibkan calon kepala daerah yang bersaing dalam pemilihan kepala daerah harus lulus tes membaca Al-Quran di depan umum.

Saking pentingnya, muncul usulan di daerah yang mewajibkan calon kepala daerah yang bersaing dalam pemilihan kepala daerah harus lulus tes membaca Al-Quran di depan umum.

Usulan ini muncul di Sumatera Barat, silakan baca di sini.

Jika kondisi ini diterapkan di Nangroe Aceh Darussalam, wajar saja karena Qanun Islam dan Syariah berlaku.

Baik di tingkat pusat maupun daerah, termasuk urusan kesalehan beragama
pemilu, argumennya sama: Islam adalah agama mayoritas. Pemimpin harus Islami.

Anggapan tersebut mendorong para politisi, mulai dari presiden, menteri, gubernur, hingga bupati dan walikota, cenderung mengambil sikap yang memihak pada suara terbanyak.

Sebab, mereka merupakan penyumbang suara terbesar dalam pemilu. Perhitungan politik lebih menguntungkan jika mengambil posisi yang sama dengan banyak orang.

Mungkin ada yang berpendapat: Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama berbeda. Tapi kita tunggu Pilkada DKI tiga tahun lagi.

Isu ‘Agama’ dan GKI Yasmin

Bingung. Saya menduga hal inilah yang menyebabkan kisruhnya kasus jemaat Gereja Kristen Indonesia Yasmin yang tak kunjung menemukan solusinya. Hari ini, di Hari Raya Natal, mereka tidak bisa melaksanakan ibadah Natal di gerejanya karena sudah disegel oleh Pemerintah Kota Bogor.

Wali Kota Bogor Bima Arya tentu punya alasan tersendiri. Katanya, jemaah GKI Pos Yasmin sudah tidak ada lagi karena diminta dibubarkan oleh pengadilan GKI selaku induknya. Keterangan lengkap Walikota Bima Arya dan tanggapan GKI Yasmin terlampir Link ini.

Saya tidak mau ikut campur urusan internal GKI di Bogor. Ada juga persoalan tanda tangan palsu dan sebagainya. Banyak juga yang menilai ada pihak yang sengaja terus menghebohkan masalah ini, padahal jemaah GKI Yasmin sudah ditawari lokasi lain.

Bagi saya, sikap Wali Kota Bima Arya membuktikan sekali lagi bahwa dirinya lebih unggul dari mayoritas. Bila perlu tidak melaksanakan putusan lembaga lain yang juga sah dan konstitusional, yaitu lembaga hukum tertinggi, Mahkamah Agung. Sikap Bima Arya ini senada dengan Wali Kota sebelumnya, Diani Budiarto.

‘Agama’ telah menjadi topik hangat di kalangan politisi

“Agama merupakan isu yang populer di kalangan politisi, khususnya di daerah,” kata pengamat politik Dewi Fortuna Anwar yang pernah menjadi penasihat di kantor Wakil Presiden Boediono. Menurut Dewi Fortuna, pemilik suara dalam pemilihan kepala daerah masih memperhatikan aspek agama dalam menentukan pilihannya.

“Agama merupakan isu yang populer di kalangan politisi, terutama di daerah. Pemilih di Pilkada tetap memperhatikan aspek agama dalam menentukan pilihannya.’

Pengamat politik Dewi Fortuna Anwar, mantan penasihat Boediono

Saya mengutip perkataan Dewi dari artikel di surat kabar New York Times yang membahas kasus terkait intoleransi beragama di Indonesia. Ini tautannya.

Bukan hanya di wilayah tersebut. Seperti yang saya katakan di awal artikel, isu ini penting di tingkat pusat. Hal inilah yang membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Menteri Dalam Negeri, dan Menteri Agamanya was-was, misalnya dalam menentukan solusi kasus GKI Yasmin.

SBY terkesan ingin menyerahkan pengurusan masalah ini ke tingkat kepala daerah. Namun kapan hal ini menjadi isu nasional, bahkan internasional? Bagaimana dengan kemungkinan preseden di tempat lain?

Presiden atau kepala daerah?

Hal inilah yang saya diskusikan dengan salah satu anggota kabinet Jokowi pekan lalu. Argumen menteri pun sama: itu bukan urusan presiden, biarkan kepala daerah yang mengurusnya. Tidak semuanya harus ditangani oleh presiden.

Saya menjawab, “kalau ada 30-40 isu yang menjadi bahan perdebatan publik, meskipun itu ranah daerah, presiden harus menyatakan sikapnya.

GKI Yasmin dan permasalahan yang dialami jamaahnya, terlepas dari berbagai konflik yang ada di dalamnya, merupakan salah satu permasalahan yang diperdebatkan masyarakat. Bayangkan, setiap hari Minggu mereka menjadikan depan Istana Presiden sebagai tempat ibadah? Manakah yang kurang menonjol? Berapa lama Anda ingin pergi? Natal tahun depan?

Jadi di manakah janji perubahan ke arah yang lebih baik? Dimana solusinya? Dingin-miliknya? Jangan sampai berubah, kita terpaksa harus mengacu pada para pahlawan di Power Ranger, karakter animasi populer di TV. Sebab, Wali Kota berganti, Menteri Agama berganti, Menteri Dalam Negeri berganti, Presiden berganti, kasus GKI Yasmin masih berjalan.

Belum lagi kasus intoleransi lainnya, atau kasus berdarah Papua.–Rappler.com

Uni Lubis, mantan Pemimpin Redaksi ANTV, menulis blog tentang 100 hari pemerintahan Jokowi. Ikuti Twitter-nya @unilubis dan membaca blog pribadinya unilubis.com.

Normal 0 salah salah salah AND-VS X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

/* Definisi Gaya */ table.MsoNormalTable mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-ukuran tapak:0; mso-tstyle-colband-ukuran:0; mso-style-noshow: ya; prioritas gaya mso:99; mso-style-qformat: ya; mso-style-parent:””; mso-padding-alt: 0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-kanan: 0in; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-kiri: 0in; tinggi garis: 115%; penomoran halaman mso: janda; ukuran font: 11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-keluarga:Calibri; mso-ascii-tema-font:kecil-latin; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-tema-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-tema-font:kecil-latin;


judi bola terpercaya