• May 24, 2024
Temui Rizki, punggawa termuda Keraton Yogyakarta

Temui Rizki, punggawa termuda Keraton Yogyakarta

YOGYAKARTA, Indonesia – Jika berkunjung ke Keraton Yogyakarta dan bertemu Rizky Kuncoro Manik, akan sulit berbincang jenaka dengannya. Hanya dalam waktu 15 menit, ia sudah didatangi 10 kali wisatawan yang meminta berfoto bersama, baik wisatawan lokal maupun mancanegara, tua dan muda.

Jika berdiri saat akan difoto, Rizky akan langsung berpose bak penari Jawa. Berdirilah dengan kedua kaki terbuka, satu tangan ditekuk ke dalam, tangan lainnya mengarah ke luar.

Rizky memang menjadi pemandangan unik di istana. Rata-rata orang yang mengabdi di keraton atau Saya seorang pelayan paruh baya Sedangkan Rizky baru berusia enam tahun.

Dengan tubuh mungilnya, dia menonjol dari keramaian kakek Dan paman atau Budha abdi dalem lainnya. Pakaiannya lengkap, begitu pula para abdi dalem lainnya. Satu-satunya perbedaan adalah yang ini sedikit lebih sopan.

Rizky merupakan cucu dari Mbah Suyat, seorang punggawa istana yang telah mengabdi di keraton selama lebih dari 40 tahun. Sejak usianya 15 bulan, ia diajak ke kediaman Sultan Yogyakarta.

Mbah Suyat mengatakan, meski masih kecil, Rizky tidak pilih-pilih. Cukup darah (membawa perbekalan) botol susu berisi teh, minuman kesukaannya. “Saya malah tidak mau susu,” kata Mbah Suyat.

Laki-laki tampan ini sungguh pendiam. Dia diam ketika bertemu orang asing. Namun bersama kakeknya ia fasih berbahasa Jawa halus.

Di Jawa, keluarga tertentu menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa ibu mereka. Bahkan terkadang ada anak yang kesulitan berbicara bahasa Indonesia padahal sudah paham saat mendengarnya.

Meski pendiam, Rizky mengingat banyak hal, baik tentang jadwal mereka di Istana maupun kegiatan apa yang dilakukannya dan kakeknya kemarin. Neneknyalah yang sering lupa. Rizky pun mengetahui media yang datang meliputnya.

Sejak berusia 2 tahun, banyak media yang menulis tentang Rizky karena statusnya sebagai punggawa cilik. Mbah Suyat menyimpan kliping koran lokal yang memuat artikel Rizky.

Pada tahun 2014, sebuah stasiun televisi bahkan datang ke rumah mereka. Pekan lalu, majalah anak juga datang dari Jakarta. Mereka mengikuti Rizky mulai dari mandi, berangkat sekolah, hingga di Istana.

Ditinggalkan saat masih balita

Mbah Suyat mengatakan, kedatangan ke Istana itu merupakan keinginan Rizky sendiri. Suatu hari dia berkata kepada kakeknya:

Tuan, saya datang ke istana bersama ayah saya. Saya pakai dasi, pakai kain, pakai adegan, pakai kamus tiang, pakai keris (Pak, saya berangkat ke istana bersama Bapak. Tapi saya memakai blangkon, terus memakai kain jarik, menggunakan stagen, kamus timang, dan menggunakan keris).”

Mbah Suyat terpenuhi. Dulu, ia juga pernah mengajak kedua putranya, Hasto Broto dan Dewo Broto, ke istana. Keduanya berusia 4 tahun saat pertama kali diundang. Hasto dan Dewo adalah paman Rizky.

Rizky memanggil Mbah Suyat dengan sebutan “ayah” karena sejak kecil ia diasuh oleh kakek dan neneknya. Dia berkata “mak-e” kepada neneknya. “Itu sudah ada di sini (biasa saja),” kata Mbah Suyat.

Ayah Rizky meninggal saat ia sedang hamil 3 bulan. Tak lama setelah Rizky lahir, ibunya pergi ke luar negeri dan hingga kini tak pernah pulang. Jadi, kakek dan neneknya menjadi orang tua pengganti Rizky.

“Ibunya pergi bekerja?”

Ibunya adalah ibunya (Ibunya Make-e).” Yang dimaksud Mbah Suyat, ibu Rizky adalah neneknya.

Mbah Suyat lalu berkata dengan suara lirih bahwa ayah Rizky meninggal dalam usia muda karena sakit. Saat itu ayah Rizky yang juga merupakan anaknya sendiri masih berusia 22 tahun.

Rizky menangis. Dia tahu kakeknya sedang membicarakan mendiang ayahnya. Mbah Suyat memeluk anak itu sambil terus mengajak Rizky diam.

Hari itu dan beberapa hari kemudian saat mereka bertemu di Istana, perbincangan soal ayah dan ibu Rizky tak kunjung dilanjutkan.

Ingin menjadi dalang, penari dan penabuh gamelan

Rizky mengatakan ingin menjadi punggawa untuk “lanjutkan dengan kakek dan nenek (lanjut para wanita)”. Kebanyakan abdi dalem istana sudah menjadi kakek.

Mbah Suyat dan Rizky datang ke Istana setiap hari Senin, Selasa Kliwon, Rabu, Kamis, dan Sabtu. Mereka dapat ditemukan di belakang istana, tempat diadakannya pertunjukan boneka untuk wisatawan setiap hari Rabu dan Sabtu pagi.

Sebelum Rizky berangkat sekolah, mereka bersepeda bersama. Mbah Suyat memasang kursi rotan untuk diduduki Rizky.

Dari rumah jam 9 pagi, mereka baru sampai di rumah jam 2 siang. Sejak dua tahun lalu, Rizky mulai bersekolah di Taman Kanak-Kanak (TK). Dia berangkat ke sekolah jam 7.30, pulang jam 10. Pukul 10.30 ia tiba di istana ditemani bibinya.

Saat dalam perjalanan pulang atau berangkat, Mbah Suyat dan Rizky kerap disinggahi orang untuk berfoto bersama. Bahkan di istana setiap hari selalu ada orang yang meminta untuk berfoto. Bisa dibilang, abdi istana cilik ini merupakan ikon tersendiri. Bahkan dengan orang-orang besar juga.

Di rumah mereka, foto-foto yang dengan bangga dipajang di ruang tamu: Foto bersama Sultan Hamengkubuwono X, bersama Presiden Ceko Václav Klaus saat datang ke Yogya, dan bersama anak-anak Sri Sultan.

Mbah Suyat adalah seorang punggawa yang mengurus wayang. Ia sebelumnya merupakan lulusan sekolah dalang istana. Saat itu tahun 1975. Dia sekarang berusia 61 tahun. Di istana ia bertanggung jawab atas tata panggung wayang kulit dan penataan wayang kulit bila ada pementasan. Rizky membantu memasang wayang di batang pisang.

Meski disebut abdi dalem, Rizky tetap hanya membantu. Untuk menjadi seorang punggawa ada tahapan yang harus dilalui. Dia sendiri tidak dibayar. Namun saat ada pertunjukan wayang, tim abdi dalem yang menggarapnya dibayar Rp 175 ribu. Uang itu dibagikan kepada 40 orang. Rizky pun mendapat bagian.

“Dapat Rp 3.000,” kata Mbah Suyat sambil tertawa.

Mbah Suyat sendiri yang telah mengabdi selama 40 tahun menerima gaji sebesar Rp45 ribu per bulan dan tunjangan Dana Khusus sebesar Rp460 ribu per bulan. Rizky tidak mendapat gaji karena hanya membantu.

Mbah Suyat tidak mempunyai pekerjaan lain. Rumahnya di kawasan Janturan, Kota Yogyakarta juga sangat sederhana.

Sembari membantu, Mbah Suyat justru mengajarkan budaya Jawa kepada Rizky. Anak ini hafal banyak tokoh wayang.

Rizky mengaku ingin menjadi dalang, penari Jawa, dan penabuh gamelan di masa depan. Semua cita-cita ini adalah profesi yang dilihatnya setiap hari di istana. —Rappler.com

taruhan bola