• February 22, 2024
4 kasus terpanas tahun ini terkait dengan peringatan tragedi 1965

4 kasus terpanas tahun ini terkait dengan peringatan tragedi 1965

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Majalah Lentera juga dilarang karena memuat gambar palu arit, simbol komunisme

JAKARTA, Indonesia — Tahun ini memperingati 50 tahun peristiwa pembantaian massal tahun 1965. Untuk memperingati ratusan – bahkan ribuan – korban pembantaian tersebut, sejumlah organisasi dan lembaga swadaya masyarakat menggelar kegiatan untuk memperingati tragedi tersebut.

Mulai dari pemutaran film hingga diskusi. Namun ternyata acara tersebut tidak berjalan mulus. Beberapa kendala ditemui, termasuk larangan oleh otoritas setempat.

Berikut empat peristiwa terpanas tahun ini terkait peringatan tragedi 1965 yang dirangkum Rappler:

Rabu,30 September 2015. Larangan pemutaran film Kesunyian Pekerjaan Joshua Oppenheimer di Sekolah Seminar Teologi Jakarta dibatalkan pada 30 September.

Sebanyak 70 polisi meminta pemutaran film dibatalkan dengan alasan ada ancaman dari kelompok Front Pembela Islam (FPI).

Sementara itu, Kapolda Irjen Tito Karnavian menonton film bersama Pengkhianatan G30S/PKI dengan FPI di Cawang, Jakarta Timur.

Jumat, 9 Oktober 2015. Badan Intelijen Negara (BIN) dan kepolisian menyatakan akan mencabut izin Festival Penulis Ubud di Bali jika panitia tetap memutar film dokumenter tersebut. diam, Film kedua Oppenheimer tentang pembantaian tahun 1965 setelahnya Tukang daging. Akhirnya panitia bersedia membatalkan pemutaran film tersebut.

Senin, 12 Oktober 2015. Tom Iljas, 77 tahun, WNI yang tinggal di Swedia, berniat salat di makam ayahnya yang menjadi korban pembunuhan massal tragedi 1965 di Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

Namun, Tom ditangkap polisi dan imigrasi dengan tuduhan membuat dokumentasi yang dianggap membahayakan keamanan negara.

Tom adalah salah satu mahasiswa teknik mekanisasi pertanian pada tahun 1960 yang dikirim ke Tiongkok melalui Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Niat awalnya untuk sekedar melanjutkan studi berujung pada pengasingan selama bertahun-tahun karena ia kemudian dilarang pulang ke rumah dan akhirnya menjadi pengasingan di Swedia.

Anggota Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang Wendra Rona Putra mengatakan, Tom yang sudah bertahun-tahun tak pulang kampung, akhirnya mendapat kesempatan langka itu. Ia akhirnya bisa kembali ke Indonesia pada 11 Oktober. Dengan berbekal kamera foto, Tom mendatangi makam ibunya, mendiang Siti Mawar, di Pemakaman Kampung Salido, Sumatera Barat.

Baca cerita lengkapnya di sini.

Minggu, 18 Oktober 2015. Awal bulan Oktober iniLembaga Pers Mahasiswa FISKOM UKSW Salatiga telah menerbitkan Majalah Lentera Edisi Nomor 3 Tahun 2015.

Majalah Lentera mengangkat tema G30S dengan sudut acara di Salatiga bertajuk “Kota Merah Salatiga”.

Namun pada Minggu, 18 Oktober 2015, Polresta Salatiga memanggil pegawai Lembaga Pers Mahasiswa FISKOM Salatiga yang menerbitkan Majalah Lentera.

Polisi meminta agar Majalah Lantera yang sudah disebarkan ditarik dan diserahkan kepada polisi.

Majalah dapat diunduh Di Sini. —Rappler.com

BACA JUGA:

situs judi bola online