• March 5, 2024
Kesaksian penumpang helikopter yang bertahan 3 hari di Danau Toba

Kesaksian penumpang helikopter yang bertahan 3 hari di Danau Toba

YOGYAKARTA, Indonesia — Air mata kebahagiaan pun mengalir saat Fransiskus Subihardayan (22 tahun) hadir di hadapan ibunya, Fransiska Sri Handayani, pada Minggu malam, 18 Oktober. Frans, begitulah panggilan akrabnya, langsung memeluk erat sang mama.

Frans menjadi korban helikopter Eurocopter EC130 yang jatuh di Dana Toba pada Minggu 11 Oktober. Ia berhasil bertahan hidup setelah terapung di danau di provinsi Sumatera Utara selama tiga hari.

Kecelakaan yang dialaminya dan awak helikopter lainnya terjadi dengan sangat cepat. Frans bahkan tidak ingat detail bagaimana helikopter itu jatuh ke Danau Toba.

“Saya tidak ingat detailnya. Yang saya ingat, kami lepas landas lalu hendak menyeberangi Danau Toba. Tiba-tiba ada kabut, lalu helikopter jatuh, kata Frans saat ditemui di rumahnya di Tegal Bojan, Sleman, Yogyakarta, Senin 19 Oktober.

Begitu helikopter jatuh ke air, seluruh awaknya, termasuk paman Frans, Nurharyanto, pun turun dari helikopter. Mereka sempat menarik kursi helikopter untuk mendapatkan pegangan mengambang.

Frans sendiri pun turut membantu menarik kursi tersebut. Ia bahkan sempat menyelam di belakang helikopter yang hampir tenggelam untuk mencari perlengkapan seperti jaket pelampung atau benda lain yang mungkin bisa digunakan untuk tetap berada di dalam air. Sayangnya usahanya sia-sia, Frans tidak bisa menemukan apa pun.

“Setelah itu kami semua duduk bersama. “Tapi sekitar 2 sampai 3 jam terjadi gelombang besar, lalu kami terpisah,” kata Frans.

Frans beruntung masih bisa bergandengan tangan dengan penumpang lainnya, Giyanto. Namun tak berselang lama, mereka akhirnya berpisah setelah ombak kembali menerjang.

Frans berusaha tetap tenang dan berpikir rasional di tengah kekacauan. Ia pun mencoba berenang ke barat, namun karena kabut tebal, ia memutuskan untuk beristirahat.

“Eceng gondoknya banyak sekali, saya taruh di baju, supaya kepalanya tetap di atas air. Saya mendapat pelajaran sekali bertahan hidup di kelas 1 SMA. “Saat di dalam air harus tenang, jangan banyak bergerak,” ujarnya.

Marah pada Tuhan

Terapung sendirian di Danau Toba tanpa makanan membuat Frans kebingungan. Namun ia tetap berusaha tetap tenang dengan berdoa. Dalam hatinya ia yakin bahwa Tuhan maha penolong dan maha baik. Ia yakin Tuhan pasti akan menolongnya.

Keyakinan itu terguncang pada hari kedua. Dia merasa marah pada Tuhan.

“Saya telah berdoa sepanjang hari, tetapi tidak ada jawaban. Aku marah, kenapa Allah biarkan aku terapung di telaga, Dialah Yang Maha Penolong lagi Maha Baik. Tapi kenapa aku ditinggal sendirian?” dia berkata.

Dia akhirnya menyerah. Dia berdoa kepada Yesus ketika tiba waktunya, dia siap dipanggil.

“Saya tidak bisa melakukan ini lagi,” katanya.

Di malam hari, Frans merasakan ada yang berbisik kepadanya agar ia tidur. Frans kemudian pergi tidur. Pagi harinya dia merasa dibangunkan oleh Tuhan.

Semangatnya untuk bertahan hidup kembali bangkit. Saat Frans melihat sinar matahari muncul di timur, Frans lalu berenang ke barat. Dia juga melihat daratan terbakar seperti lampu. Namun karena sudah tidak bisa berenang lagi, Frans berhenti dan kembali memejamkan matanya.

“Saya tiba-tiba terbangun dan sudah berada di sekoci karet. Saya langsung mengucapkan terima kasih. Berdoalah untuk berterima kasih kepada Tuhan. “Ini benar-benar keajaiban dari Tuhan yang saya rasakan,” katanya.

Dapatkan apresiasi

Kegigihan Frans bertahan selama tiga hari di Danau Toba mendapat apresiasi dari Ketua Tim Pencarian Helikopter, Serma Totok Santoso. Frans kemudian dianugerahi kewarganegaraan kehormatan Marinir Angkatan Laut.

” “Saya telah berdoa sepanjang hari, tetapi tidak ada jawaban. Aku marah, kenapa Allah biarkan aku terapung di telaga, Dialah Yang Maha Penolong lagi Maha Baik. Tapi kenapa aku ditinggal sendirian?”

“Saya diberi baret dan baju sebagai simbol kehormatan warga laut. Menurutku tidak. “Saya hanya mempraktikkan pelatihan yang saya terima di sekolah,” kata Frans.

Penghargaan tersebut diberikan semata-mata karena Frans mampu bertahan di dalam air selama tiga hari. Suatu hal yang luar biasa, mengingat Frans bukanlah seorang ahli bertahan hidup atau anggota TNI Angkatan Laut.

“Selama di dalam air, saya tidak makan, saya hanya minum air danau. “Saya juga hemat tenaga, tidak banyak bergerak,” ujarnya.

Kebahagiaan keluarga

Selamatnya Frans dari kecelakaan helikopter membuat keluarganya sangat bahagia, terutama ibunya, Fransiska Sri Handayani (40 tahun).

Sri mengaku sangat senang karena doa novena yang dipanjatkannya setiap hari akhirnya membuahkan hasil. Anak semata wayangnya akhirnya bisa pulang ke rumah dengan selamat.

“Saya berdoa Novena setiap hari, ketika mendengar kabar helikopter hilang, saya justru merasa anak saya selamat. Dalam doaku aku memohon kepada Tuhan, ya Tuhan, Engkau Juru Selamat, selamatkan anakku,” ujarnya.

Ia terus berdoa meski Frans ditemukan. Sebab, Sri masih belum percaya dengan pemberitaan media.

“Sampai akhirnya saya menerima foto Frans dengan selamat. “Puji Tuhan, akhirnya doaku terkabul,” ucapnya.

Meski demikian, Sri tetap merasa senang. Pasalnya kakak laki-lakinya, Nurharyanto yang juga menjadi korban helikopter tersebut hingga kini belum ditemukan.

“Kami berdoa bersama pagi ini, agar Mas Har juga segera ditemukan. “Kami sekeluarga senang dan senang Frans selamat, tapi masih ada yang kurang karena Mas Har belum juga ketemu,” ujarnya.

Seperti diketahui, Helikopter milik PT Aviation Angkasa Semesta yang terbang menuju Bandara Kualanamu dari Samosir pada Minggu kemarin pukul 11.33 WIB hilang kontak.

Helikopter yang terbang dari Siparmahan atau pantai barat Danau Toba melalui Pematangsiantar menuju Bandara Kualanamu itu berisi 5 orang, yakni Teguh Mulyatno (pilot), Hari Poewantono (insinyur), Nurharyanto, Sugiyanto dan Fransiskus Subihardayan (kru).

Selasa, 13 Oktober, warga menemukan Fransiskus selamat di antara eceng gondok di pinggir Danau Toba di Desa Onan Runggu, Kecamatan Onan Runggu, Kabupaten Samosir. —Rappler.com

BACA JUGA:

judi bola