• April 12, 2024
Menunggu keadilan bagi Ketua Mahkamah Konstitusi yang baru, mantan kader PDI Perjuangan

Menunggu keadilan bagi Ketua Mahkamah Konstitusi yang baru, mantan kader PDI Perjuangan

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Keputusan Jokowi memilih Palguna yang notabene berasal dari PDI-P patut dipertanyakan. Apakah ada kepentingan politik di balik semua ini?

(BENAR: Pendapat tersebut salah mengukuhkan I Gede Dewa Palguna sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi periode 2015-2017. Palguna terpilih menjadi hakim Mahkamah Konstitusi menggantikan Hamdan Zoelva, bukan menjadi hakim ketua Mahkamah Konstitusi. Ketua Mahkamah Konstitusi yang baru, Arief Hidayat, terpilih pada 12 Januari 2015 menggantikan Hamdan. Kami mohon maaf atas kesalahan ini.)

Mahkamah Konstitusi kini mempunyai 9 hakim baru.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) melalui Menteri Sekretariat Negara Pratikno menyatakan telah memilih I Gede Dewa Palguna untuk melengkapi 9 hakim Mahkamah Konstitusi.

Pertama-tama saya ucapkan selamat kepada Pak Palguna. Dengan tulisan ini saya berharap bapak/ibu mampu menegakkan pilar keadilan yang berintegritas dan berkemanusiaan di negeri ini.

Sekilas I Gede Dewa Palguna merupakan mantan hakim konstitusi periode 2003-2008 yang dipimpin oleh Jimly Asshiddique. Setelah menyelesaikan tugasnya, Palguna kemudian kembali mengajar di Universitas Udayana, Bali, tempat ia dilahirkan.

Namun, yang lebih mengejutkan – bahkan mengecewakan – adalah bahwa Palguna adalah mantan kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), partai politik utama yang mendukung Jokowi pada pemilu presiden Juli lalu.

Keputusan Jokowi memilih Palguna yang notabene berasal dari PDI-P patut dipertanyakan. Apakah ada kepentingan politik di balik semua ini? Ataukah ada pengaruh dari luar Jokowi (baca: PDI-P) yang ikut menentukan kemenangan salah satu MK baru?

Palguna setuju anggota MPR Delegasi Daerah Bali dan bergabung dengan Fraksi PDI-P pada periode 1999-2004.

Bukan tidak mungkin jika keputusan presiden diwarnai oleh pengendalian internal partai pimpinan Megawati Soekarnoputri tersebut.

Kita bercermin ketika tahun lalu Jokowi mengumumkan susunan kabinetnya yang tidak hanya terdiri dari politisi Partai Koalisi Indonesia Raya atau orang-orang dekat Megawati. Misalnya saja Siti Nurbaya, politisi Partai Nasional Demokrat, atau Susi Pudjiastuti, CEO perusahaan penerbangan Susi Air yang punya kedekatan dengan keluarga Megawati. Kemudian Jaksa Agung HM Prasetyo, mantan kader Partai Nasdem. (MEMBACA: Masyarakat kecewa karena Jaksa Agung berasal dari partai politik)

Berbagai kritik pun mengalir dari berbagai kalangan di Indonesia ketika Jokowi menunjuk Prasetyo sebagai jaksa di lembaga hukum tinggi, Mahkamah Agung. Hal ini juga sangat wajar karena latar belakang Prasetyo adalah sebagai politikus NasDem. Konflik kepentingan kembali menjadi sumber kekhawatiran ini. (MEMBACA: Peran Surya Paloh dibalik penunjukan Jaksa Agung baru)

Hal ini juga terkait dengan status mantan Ketua MK Akil Mochtar yang merupakan politikus Golkar. Dan terlepas apakah Akil melakukan tindak pidana korupsi secara individu atau partai, penegak hukum yang berasal dari partai politik tetap saja menimbulkan “mosi tidak percaya” di banyak kalangan. Meningkatnya kasus korupsi yang terjadi di kancah politik Indonesia memang telah melemahkan kepercayaan masyarakat terhadap politisi.

Kekhawatiran ini bisa dimaklumi, karena selama lebih dari satu dekade reformasi dicanangkan, dunia politik hanya bertumpu pada kepentingan partai sementara, bukan lagi kepentingan rakyat.

Kembali ke Palguna.

Ada atau tidaknya pengaruh politik dalam terpilihnya Palguna tidak perlu dipertanyakan (walaupun ada kekhawatiran). Yang terpenting Palguna bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Ia tentu diharapkan mampu menghadirkan undang-undang yang transparan dan tidak memihak. Dan yang terpenting, setiap keputusan strategis harus diambilnya secara netral dan independen, tanpa pengaruh dari partai asalnya.

Kerja bagus Pak Palguna, kami tunggu penampilan bapak. —Rappler.com

Karolyn Sohaga adalah seorang aktivis sosial yang memiliki ketertarikan pada sastra, isu perempuan dan hak asasi manusia.

keluaran hk