• April 14, 2024
Siapa yang menerbitkan izin penerbangan AirAsia QZ8501?

Siapa yang menerbitkan izin penerbangan AirAsia QZ8501?

JAKARTA, Indonesia — Sembilan hari lalu, Indonesia dihebohkan dengan kabar hilangnya kontak dengan pesawat AirAsia QZ8501 rute Surabaya-Singapura. Namun, heboh lagi ketika Kementerian Perhubungan mengumumkan penerbangan pada Minggu, 28 Desember 2014 itu tanpa izin.

Berdasarkan data yang dihimpun Kementerian Perhubungan, Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan Julius Adravida Barata mengatakan, AirAsia mendapat slot penerbangan rute Surabaya-Singapura pada Senin hingga Minggu, namun di luar musim dingin. Jadwal yang diberikan kepada AirAsia adalah Senin, Selasa, Kamis dan Sabtu.

“Saat ini itulah skornya musim dingin. Oleh karena itu, penerbangan hari Minggu tidak diperbolehkan karena tidak ada permohonan dan tidak disetujui oleh otoritas yang berwenang. “Ini merupakan pelanggaran terhadap persetujuan rute yang telah diberikan,” ujarnya, Jumat, 2 Januari 2015.

Untuk itu, lanjutnya, Kementerian mengeluarkan keputusan pembekuan sementara rute AirAsia Surabaya-Singapura mulai 2 Januari 2015. (BACA: Menteri Jonan membekukan izin rute AirAsia Surabaya-Singapura)

Namun informasi Kementerian Perhubungan berbeda dengan informasi Singapura. Otoritas Penerbangan Sipil Singapura (CAAS) mengatakan AirAsia telah diberikan izin untuk terbang dan mendarat di Bandara Changi pada hari Minggu, meskipun musim dingin. Padahal, izin tersebut telah dipegang Air Asia sejak 26 Oktober 2014 – 28 Maret 2015.

CAAS juga menjelaskan, AirAsia Indonesia juga mendapat tunjangan penerbangan empat hari dalam seminggu musim dingin. Yaitu Senin, Rabu, Jumat dan Minggu.

Polemik izin ini tak berhenti sampai di sini, pada Senin (5/1) sore, Otoritas Bandara Juanda, Surabaya, menyatakan izin penerbangan maskapai merah ini sah. Legalitas tersebut disampaikan Kepala Otoritas Banda Wilayah III Bandara Juanda, Praminto Hadi.

Menurutnya, AirAsia telah menjalankan seluruh prosedur pengajuan slot penerbangan. Praminto bahkan mengatakan, AirAsia juga sudah mengajukan izin rute tersebut ke Direktorat Jenderal Perhubungan Udara pada Minggu.

Namun saat dikonfirmasi lebih lanjut oleh kontributor Rappler Surabaya Kartika Ikawati, Praminto mengoreksi pernyataannya sendiri. Ia bahkan mengaku wartawan tersebut salah mengutipnya.

“Sampai saat ini Air Asia belum pernah mengajukan surat permintaan perubahan jadwal, sehingga izin penerbangan tersebut ilegal,” ujarnya mencabut pernyataannya yang sebelumnya dikutip hampir seluruh media tanah air.

Kebingungan ini pada akhirnya membuat masyarakat bingung mengenai informasi apa yang harus dipercaya dan diikuti. Keduanya merupakan otoritas yang paling bertanggung jawab dalam mengeluarkan izin penerbangan dan pendaratan.

Izin dikeluarkan dari Kementerian Perhubungan?

Permohonan izin penerbangan atau persetujuan penerbangan ternyata itu tidak mudah. Menurut JA Barata, prosedur pengajuan izin penerbangan awalnya dilakukan oleh pihak maskapai.

Persyaratannya antara lain jenis pesawat, jumlah bahan bakar, jumlah penumpang, rute penerbangan serta waktu penerbangan dan kedatangan, ujarnya, Minggu (4/1).

Setelah izin diberikan regulator, informasi tersebut dikirimkan ke Air Traffic Control (ATC) dan pengelola bandara untuk mempersiapkan waktu lepas landas.

Setelah pilot melakukannya sesi informasi Sebelum terbang, lanjutnya, dari apron atau tempat parkir pesawat, pilot akan mengarahkan burung besi tersebut sesuai perintah ATC hingga terbang dan tiba di tempat tujuan.

Dalam kasus AirAsia QZ8501, seperti diungkapkan otoritas Singapura, pesawat tersebut harus terlebih dahulu mendapatkan persetujuan jadwal penerbangan dari otoritas penerbangan komersial di setiap titik keberangkatan dan kedatangan secara terpisah sebelum diizinkan mendarat.

Usulan maskapai tersebut kemudian ditinjau oleh masing-masing otoritas penerbangan komersial. Banyak pertimbangannya, misalnya ketersediaan slot take-off dan landing.

Warga Singapura menilai tidak ada yang salah dengan prosedur izin penerbangan AirAsia. Semuanya sudah selesai. (BACA: Jonan dan pertaruhan keselamatan penerbangan)

Sementara itu, Plt Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Djoko Murjatmojo mengungkap fakta lain. Dia mengatakan, kewenangan penentuan slot penerbangan internasional dari dan ke Indonesia sebenarnya ada di tangan Garuda Indonesia.

Berdasarkan peraturan yang ada, AirAsia Indonesia harus menghubungi koordinator slot untuk meminta alokasi waktu sebagai prosedur.

“Selanjutnya, pemberian slot persetujuan dijadikan lampiran untuk pengajuan izin trayek di Direktorat Jenderal Perhubungan Udara. “Setelah izin keluar, ditembuskan ke berbagai pihak yang berkepentingan, mulai dari pengelola bandara, navigasi udara, TNI AU dan Asisten Intelijen hingga Panglima TNI,” jelasnya.

Bocor di pos lisensi

Meski pemerintah masih berbeda pendapat dengan otoritas negara tetangga, namun hal tersebut tidak menyurutkan upaya investigasi kementerian.

Berdasarkan audit awal, Kementerian Perhubungan mengakui terdapat kesenjangan antara aturan penerbitan izin trayek dengan pelaksanaan di lapangan oleh pihak terkait seperti pengelola bandara, navigasi udara, dan otoritas bandara.

Bahkan, Plt Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Djoko Murjatmojo mengatakan, tidak mungkin maskapai lain juga melakukan pelanggaran terkait izin rute. “Jika ada temuan awal, jalur tersebut akan kami bekukan sementara untuk dilakukan evaluasi. “Jika terbukti ada pelanggaran, maka jalur tersebut bisa ditarik,” ujarnya, Senin (5/1).

Menurut dia, tim audit Direktorat Jenderal Perhubungan Udara akan mencocokkan izin rute yang dimiliki maskapai dengan jadwal penerbangan yang dipasarkan operator kepada calon pengguna jasa. Selain itu, lanjutnya, tim juga melakukan langkah pengendalian di lapangan.

“Sampai saat ini mekanisme otoritas bandara adalah mengirimkan laporan bulanan secara berkala. Ini yang kami selidiki di mana letaknya merindukan Antara izin trayek dan pelaksanaan di lapangan, ujarnya.

Terkait QZ 8501 yang terbang di luar jadwal, menurutnya, berdasarkan audit awal, AirAsia Indonesia mendapat jatah slot penerbangan internasional Surabaya-Singapura sebanyak tujuh kali dalam seminggu. Namun Direktorat Jenderal Perhubungan Udara hanya menerbitkan rute sebanyak empat kali dalam seminggu, yakni Senin, Selasa, Kamis, dan Sabtu.

“Ternyata ada penggunaan data lain antara Ditjen Perhubungan Udara dengan pihak-pihak di lapangan yaitu AP I Cabang Juanda, LPPNPI (AirNav Indonesia) dan Otoritas Bandara Wilayah III. Pihak di lapangan memberi lampu hijau hanya berdasarkan izin kunci. “Sebenarnya izin ini hanya salah satu syarat untuk mendapatkan izin trayek,” jelasnya.

Menteri Perhubungan, kata Djoko, telah mengirimkan surat rekomendasi kepada LPPNPI dan PT Angkasa Pura I untuk memindahkan petugas yang berkontribusi pada penerbangan AirAsia QZ 8501 pada penerbangan pekan lalu dari posisi operasional jika hasil audit menunjukkan ditemukan kesalahan. para petugas ini.

“Jika hasil audit menunjukkan Kementerian Perhubungan salah, maka akan ditindaklanjuti juga dengan mencopot pejabat ‘rotasi’ terkait dari jabatan operasional,” imbuhnya. —Dengan laporan dari Firmansyah, Nia, Kartika Ikawati/Rappler.com

Keluaran Sidney