• February 29, 2024
Korban kebakaran Gunung Lawu mengabaikan larangan pendakian

Korban kebakaran Gunung Lawu mengabaikan larangan pendakian

NGAWI, Indonesia – “Krumu tidak melok (tidak ikut)? “Itu undangan terakhirnya ke saya,” kata Sunardi, teman sekaligus rekan kerja Sumarwan.

Kedua sahabat itu sudah terbiasa mendaki Lawu bersama-sama. Namun Sunardi memutuskan untuk tidak berangkat ke puncak tahun ini karena khawatir dengan kakinya yang menderita asam urat.

Katanya ingin membawa anak-anaknya, makanya sehari sebelumnya saya temani untuk membeli tenda, kata Sunardi.

Sabtu sore, Sumarwan mengirim pesan singkat melalui telepon seluler bahwa ia akan berangkat dari Cemoro Kandang (Karanganyar), setelah mengetahui Cemoro Sewu (Magetan) ditutup karena kebakaran hutan. Kedua tiang panjat tersebut terletak di dua provinsi, namun jaraknya hanya setengah kilometer.

Sumarwan, warga Desa Beran, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, berangkat ke Lawu bersama kedua anaknya, Nanang Setya Utama dan Novi Dwi Istiwanti; kedua keponakannya, Eko Nurhadi dan Rita Septi Nurika serta calon suaminya Awang Feri Pradika.

Dalam rombongan, hanya Sumarwan dan Nanang yang mendaki gunung tersebut.

“Tn. Sumarwan meninggalkan KTP dan sepeda motornya di posko Cemoro Kandang pada hari Sabtu lalu naik pada sore harinya,” kata Budi Babhie, salah satu anggota relawan. pencarian dan penyelamatan (SAR) Anak Gunung Lawu.

Beberapa petugas SAR di posko Cemoro Kandang justru memperingatkan rombongan Sumarwan tentang keselamatan pendakian dan melarang mereka turun melalui Cemoro Sewu karena terjadi kebakaran hutan di beberapa titik.

“Kalau saja mereka mengikuti peringatan kami, kecelakaan ini tidak akan terjadi,” kata Budi.

Tak ada yang tahu pasti kenapa rombongan Sumarwan akhirnya tidak menghiraukan peringatan dan memutuskan menempuh jalur Cemoro Sewu yang berakhir tragis. Mereka dan pendaki lainnya terjebak kobaran api yang melahap hutan dan semak-semak di jalur antara pos 3 dan 4 pada Minggu sore.

Sebelumnya, tim gabungan Perhutani, SAR, dan prajurit yang berada di sana untuk memadamkan api bertemu dengan pendaki asal Semarang, Maisur Salim, yang mengaku sebagai pendaki lain yang terjebak api, Dita Kurniawan, ditolong van Magetan.

Dita kemudian mengaku selamat karena bersembunyi di celah batu saat api melahap semak-semak kering, sementara dua temannya yang lain melompat ke jurang. Mereka selamat namun menderita luka-luka.

“Saya mendengar orang berteriak minta tolong, namun saya tidak bisa berbuat apa-apa karena dikepung api yang semakin membesar,” ujarnya.

Ia pun mengaku melihat beberapa pendaki lainnya terpanggang di dalam api yang menyala sangat cepat ditiup angin.

Budi yang saat itu berada di Cemoro Sewu mengatakan, sekitar pukul 14.30 WIB, ia melihat seseorang buru-buru turun ke bawah untuk meminta pertolongan, yang kemudian diketahui identitasnya adalah Eko Nurhadi, keponakan Sumarwan.

“Dia mengalami luka bakar di sekujur tubuhnya, tapi kakinya masih kuat dan dia turun ke bawah untuk mencari pertolongan. Katanya ada satu gadis yang kritis dan lemah di lantai atas bersama yang lain, lanjutnya.

“Saya mengambilnya dan menelepon teman-teman saya untuk meminta bantuan.”

Namun saat tim penyelamat gabungan naik ke atas, yang ditemukan masih hidup hanya dua orang yakni Novi dan Nanang, sedangkan tiga lainnya sudah meninggal dunia. Novi adalah orang pertama yang dievakuasi pada malam hari dan dilarikan ke RSUD Magetan menjelang tengah malam dan dipindahkan ke RSUD Dr Moewardi, Solo. Sedangkan Nanang meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit.

Sumarwan ditemukan duduk kaku dengan kepala tertunduk dan lengan seolah memeluk dan melindungi kedua anaknya. Diduga kuat mereka meninggal karena keracunan asap yang membuat mereka lemas dan pingsan sebelum akhirnya terbakar api.

Namun, satu-satunya yang mengetahui pasti rekonstruksi kejadian tersebut adalah Novi yang saat ini masih diisolasi di ruang perawatan intensif di ICU. Sementara itu, tiga pendaki dari rombongan lain (Jakarta) juga ditemukan tewas tak jauh dari lokasi keluarga Sumarwan.

Di lokasi kebakaran, tim relawan Anak Gunung Lawu menemukan beberapa peralatan yang diduga milik para pendaki yang menjadi korban, seperti handphone, tongkat selfie, potongan kain jaket, celana panjang dan tas, semuanya hangus terbakar. . kerusakan.

Berdasarkan penuturan Sunardi, Sumarwan dikenal sebagai sosok ayah yang sangat menyayangi anak-anaknya. Ia rela mengikuti keinginan putrinya untuk mendaki Gunung Lawu.

“Pak Sumarwan sebenarnya tidak tertarik untuk naik, bosan ke Lawu saat bulan Suro. Apalagi dia mengaku tidak punya uang. “Kalau kelompok seperti itu tidak cukup, cukup Rp 500.000,” kata Sunardi.

Namun Novi paling nekat karena belum pernah mendaki gunung sebelumnya. “Sang ayah mengalah dan menuruti keinginan anaknya,” lanjutnya.

Sang ibu, Sumiyatun, sebenarnya melarang mereka mendaki Lawu, hingga ia bertengkar dengan anaknya sendiri beberapa hari sebelum berangkat. Entah firasat atau bukan, yang jelas Sumiyatun tidak setuju dengan rencana pendakian pihak keluarga.

“Mbak Atun melarang keras, tapi Novi berdebat dengan mereka hingga ibu dan putrinya bertengkar hebat karena perbedaan pendapat. “Ibunya tetap tidak mengizinkan, padahal ayahnya ingin membawanya,” kata salah satu kerabatnya, Hariyani.

Mendapat kabar rombongan keluarga mengalami musibah kebakaran di Hutan Cemoro Sewu, Sumiyatun panik dan langsung mencari Novi di RSUD Magetan. Ia menemukan Novi dan menemaninya saat dipindahkan ke RSUD dr Moewardi.

Ia bahkan tidak mengetahui kabar suami, anak, dan keponakannya karena saat ambulans tiba satu per satu di RSUD Magetan, ia sudah berada di Solo.

Senin sorenya ia pulang ke Ngawi untuk membeli pakaian dan juga mencari tahu kabar anggota keluarga lainnya. Sumiyatun buta teknologi dan tidak pernah membawa ponsel kemana pun, sehingga ia tidak bisa menghubungi siapa pun untuk menanyakan kabar.

“Sesampainya di rumah, dia kaget ada yang memasang kanopi (tenda perayaan). “Dia pingsan saat diberitahu suami, anak, dan keponakannya meninggal di rumah sakit,” kata Haryani.

Sumiyatun masih bersembunyi di desanya, Karangjati, tempat suami dan putranya dimakamkan. Ia menitipkan rumahnya kepada sanak saudara dan tetangganya untuk mengadakan tahlilan setiap malam. — Rappler.com

BACA JUGA:

HK prize