• July 21, 2024
Saya mendukung impor untuk tujuan ekspor

Saya mendukung impor untuk tujuan ekspor

Menteri Perdagangan Tom Lembong memperkirakan perekonomian Indonesia akan pulih pada paruh kedua tahun 2016. Deregulasi yang dilakukan pemerintahan Presiden Joko “Jokowi” Widodo dalam dua paket memastikan pemulihan ekonomi dilakukan lebih cepat, termasuk memastikan prosedur perizinan terlaksana. lebih cepat, sederhana dan pada akhirnya mengurangi biaya.

“Misalnya izin harus bayar satu persen, rasanya kecil. Tapi kalau ada tiga izin yang masing-masing membayar satu persen, penurunannya lumayan, kata Tom, Jumat, 2 Oktober, dalam wawancara khusus dengan Rappler di kantornya.

Selama enam minggu menjabat Menteri Perdagangan, Tom, yang menghabiskan 20 tahun di industri keuangan, meneliti ratusan peraturan perizinan terkait bidangnya satu per satu.

“Sekarang saya memahami kekhawatiran presiden. Katanya, kami suka mengikat diri dengan aturan memperluas. Presiden mengingatkan pada rapat kabinet, setelah peraturan dibuat, siapa yang mengontrol dan mengawasi peraturan tersebut? Ingatlah bahwa pemerintah melayani, membantu. Namun hingga saat ini kami sibuk membuat puluhan izin di awal yang harus dipenuhi oleh suatu perusahaan atau industri, kata Tom.

Tom menanggapi klaim bahwa kebijakan ekonomi Indonesia mengarah pada proteksionisme dengan mengatakan: “Saya punya istilah favorit. KEEMPAT, yaitu kemudahan impor untuk tujuan ekspor.”

Pemerintah Indonesia sangat ingin mendukung produk dan industri dalam negeri. Diakui Tom, ia pernah mengatakan kecenderungan impor menjadi penyakit bagi perekonomian Indonesia. Tapi, kata dia, impor untuk mendukung industri berorientasi ekspor dan nasional sebaiknya dilakukan karena bisa membuka lapangan kerja dan mendatangkan devisa bagi Indonesia.

“Yang harus dihindari adalah kecenderungan impor karena mendatangkan keuntungan cepat, dibandingkan membangun industri dalam negeri,” kata Tom.

Misalnya, Kementerian Perdagangan dalam Paket Ekonomi jilid 1 dihadapkan pada tugas yang cukup berat karena harus merevisi dan/atau mencabut 32 dari sekitar 80-90 peraturan izin usaha dan investasi.

“Saya akui pengumuman pertama terlalu berlebihan. Kami menginginkan sesuatu itu ledakan besar. “Sebaiknya ditunda sementara agar peraturan pelaksanaannya siap,” ujarnya.

Kementerian Perdagangan menghabiskan waktu tiga minggu untuk mengkaji 26 peraturan yang perlu diprioritaskan untuk diubah. Lima peraturan dicabut, empat direvisi. Minggu ini Kementerian Perdagangan pertunjukan keliling untuk menjelaskan aturan yang dicabut dan direvisi.

Tom menjelaskan, suasana tim ekonomi kini lebih bersatu, sinergis, dan satu suara, tidak hanya antar tim ekonomi di bawah koordinasi Menko Darmin Nasution. Koordinasi yang lebih baik juga dilakukan dengan menteri koordinator lainnya yang dipimpin oleh Rizal Ramli, Luhut Binsar Panjaitan, dan Puan Maharani.

“Komunikasi dengan presiden dan wakil presiden pasti sangat lancar dan lancar,” kata Tom.

Ada nada optimis yang muncul dari sosok yang baru saja menjalani kehidupan sebagai birokrat. Tugasnya sebagai Menteri Perdagangan begitu berat sehingga praktis tidak ada waktu untuk keluarga.

“Saya sangat sadar bahwa ini adalah masa yang sulit. “Saya harus mengutamakan urusan nasional,” kata Tom.

Fokus deregulasi yang akan dilakukan Kementerian Perdagangan adalah memastikan aspek-aspek yang dapat dirasakan langsung oleh pelaku usaha dan masyarakat.

“Masa jabatan presiden sedang ditentukan proses bisnis,” kata Tom.

Misalnya terkait tanda pengenal dan identitas usaha, dengan mengurangi jumlah formulir yang harus diisi. Sebelumnya, setiap instansi mengharuskan Anda mengisi formulir dengan isi yang sama.

Nama perusahaan. Siapa pemiliknya? Alamat rumah. Padahal, jika data yang ada di Indonesia National Single Window (INSW) bisa digunakan dan diintegrasikan dengan seluruh kementerian dan lembaga, maka investor dalam dan luar negeri tidak perlu mengisi formulir berkali-kali untuk mendapatkan data yang sama. Mengurangi formulir tidak hanya menghemat waktu, tetapi juga menghemat biaya perizinan.

Kementerian Perdagangan juga sedang menjalankan misi untuk membantu kementerian teknis memantau situasi produksi secara internasional dan regional. Belum lama ini misalnya, Australia bagian utara dilanda kekeringan.

“Kami sudah informasikan ke kementerian teknis dalam hal ini kementerian pertanian karena berpengaruh pada pengadaan pakan ternak,” kata Tom.

Hal serupa juga dilakukan pada situasi panen di negara lain. Misalnya saja panen gandum di negara asal impor terganggu, maka dampaknya akan dirasakan oleh industri makanan dan minuman kita. Hal ini telah diberitahukan kepada Kementerian Perindustrian.

“Kewajiban memantau situasi makro pada dasarnya ada pada menteri koordinator perekonomian, menteri keuangan, dan menteri perdagangan, karena kita juga punya ditjen perdagangan luar negeri,” kata Tom.

Menjawab pertanyaan mengenai reaksi dunia usaha terhadap paket ekonomi yang dipertimbangkan belum menjawab keinginan mereka, Tom mengatakan bahwa¸”tugas kita di pemerintahan adalah memastikan adanya keseimbangan perlindungan bagi produsen dan konsumen.”

Menteri Pertanian misalnya, tentu ingin melindungi petani agar petani bahagia dan mendapatkan harga pangan yang tinggi. Tapi kalau tidak diatur, tidak ada keseimbangan, konsumen akan berteriak.

Tingginya harga pangan berdampak pada inflasi. Pada akhirnya, hal ini mengganggu stabilitas makroekonomi. Hal yang sama berlaku untuk deregulasi.

“Saya sebagai pengusaha memahami betul bahwa kami ingin semua peraturan ditiadakan. Liberalisasi. Tapi sebagai bagian dari pemerintah saya tidak bisa melakukan itu. Kita harus menemukan keseimbangan. “Tidak semua yang diinginkan dunia usaha bisa terpenuhi saat ini,” kata Tom.

Tom mengingatkan dunia usaha untuk tidak terlalu fokus pada keluhan.

“Sekarang diam-diam banyak perusahaan multinasional yang siap terus berinvestasi di Indonesia, setelah deregulasi. Mereka memandang segala peluang dengan kepala dingin. Tidak mengeluh. Mereka siap masuk, sepuluh miliar. “Jangan sampai kita tertinggal seperti yang terjadi pada krisis ekonomi tahun 1997-1998,” kata Tom.

Ia mencontohkan Temasek dari Singapura yang memasuki dunia telekomunikasi. Maybank Malaysia membeli kepemilikan Bank Internasional Indonesia. Investor Malaysia masuk ke Excelcomindo.

Kementerian Perdagangan juga melihat ada sektor industri yang justru tumbuh di tengah pelemahan ekonomi. Industri perhiasan dan barang semi mulia seperti batu mencatat ekspor senilai US$5 miliar dolar atau tumbuh 25 persen pada tahun ini.

“Ada sektor-sektor yang menunjukkan titik terang dalam pemulihan ekonomi. Kami di (Kementerian) Perdagangan siap mendukung dengan berbagai fasilitas yang terukur.”

Tom juga membantah kabar yang menyebut partainya akan meliberalisasi peraturan perdagangan minuman keras.

“Ada banyak hal yang harus aku urus. Fokus saya adalah deregulasi yang erat kaitannya dengan pangan. Serta memenuhi protein antara lain nasi, daging, ayam, dan telur. Lainnya nanti. “Jadi, jangan mudah percaya pada isu-isu seperti itu,” ujarnya. — Rappler.com

 Uni Lubis adalah jurnalis senior dan Eisenhower Fellow. Dapat dihubungi di @UniLubis.

BACA JUGA:

link slot demo